Skip to main content

Posts

Antologi puisi Jalan ke Huma karya Dian Rusdi cetakan pertama

  Buku antologi puisi "Jalan ke Huma" merupakan kumpulan puisi yang ditulis oleh penyair Indonesia, Dian Rusdi. Buku ini memuat puisi-puisi yang membahas tentang tema-tema seperti cinta, kehidupan, kematian, dan spiritualitas. Judul "Jalan ke Huma" sendiri merupakan metafora yang menggambarkan perjalanan hidup manusia menuju kebenaran dan kesadaran spiritual. Huma dalam konteks ini dapat diartikan sebagai tempat atau kondisi di mana manusia dapat menemukan kebenaran dan kedamaian. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang indah dan mendalam, serta mengandung unsur-unsur filosofis dan spiritual yang kuat. Dian Rusdi berhasil menggambarkan perjalanan hidup manusia dengan semua kompleksitas dan keindahannya. Buku "Jalan ke Huma" merupakan karya sastra yang sangat penting dan patut dibaca oleh mereka yang mencari kebenaran dan kesadaran spiritual.

Kata Bijak Masa Depan

Dian Rusdi, 26 Mei 2017

BURUNG CAMAR DI ATAS TIANG PERAHU NELAYAN

1 senja yang sunyi daun-daun ketapang menari dipandu angin pesisir deru pawana menelantar kenangan ke sepanjang bibir 2 bocah-bocah kecil berlari membimbing layangan di bawah sisa cahaya menahannya dari terpaan angin tersangkut di batang nyiur tak berbuah benang terputus, harap mulai cemas 3 senja yang sunyi matahari pelan pergi layar-layar perahu berusaha tetap teguh burung camar bertengger di atas tiang menatap sisa cahaya matahari menunggu malam Bandung, 12. 0717

SEBUAH PUISI TENTANG CORONA "SAJAK UNTUK PECUNDANG"

Puisi : Dian Rusdi Judul : Sajak Untuk Pecundang Video & pembaca : Aisyah Amsal Siapakah yang datang mengendap-endap Lalu diam-diam ia memangsa Begitu cepat menyerang pernapasan Mengelabui tanpa berani terlihat  Mungkinkah dia seorang pecundang? Siapakah yang diam-diam menebar ancam Kota dan Desa kini begitu mencekam Meneror kami yang tak tahu apa-apa  Kehadirannya isyaratkan semua manusia Bisakah engkau merevisi takdir Tuhan, wahai Corona Kau yang datang dengan malu-malu Sembunyi di balik droplet dan debu Lalu menyerang tanpa ada perasaan Satu persatu engkau renggut nyawa manusia Pecundang! beraninya sembunyi-sembunyi Kau yang datang tanpa mau permisi Kenapa tak engkau mangsa saja para koruptor Para begal sadis dan maling-maling bebal negara Menari di atas luka rakyat-rakyat kecil Janganlah menyerang dengan asal Kepada kau yang selama ini membuat gunjing Yang memutus keramaian dengan kesepian Begitu najiskah ...

NEGERI TERUMBU

dian rusdi Di sini Di negeri yang rakyatnya masih mencari jejak masa lalu Yang hilang sejak datangnya serangan peluru tekhnologi Game-game kekinian telah menelan kaulinan tempo dulu Tempat kami menempa otak jauh dari bahaya radiasi  Di sini  Di negeri yang anak-anak zamannya mencari jejak keasrian Dari hutan sawah yang menjelma perumahan, pabrik,  dan kota Dari sungai-sungai harum yang kini berubah bau Di sini Di negeri yang rakyatnya tak henti berebut keadilan Tempat si miskin kehilangan data dan haknya Tempat si kaya berpura-pura menjadi si miskin Di saat bantuan sosial kemiskinan menghipnotis nurani  Di mana teriakannya lebih kencang dari suara perut lapar Kemudian mereka tak segan mencaci Di media sosial menghasut, memfitnah dengan keji  Melalui ponsel-ponsel pintar berkapasitas besar Melalui laptop dan komputer-komputer LED Sedangkan si miskin pasrah kepada keadaan Bingung ke mana dan melalui apa mereka harus mengadu Di sini...

SAJAK TENTANG CORONA: " PANDEMI"

Dian Rusdi Bukan saatnya lagi saling menghujat Bukan saatnya pula kita saling memakan Virus corona telah memaksa setiap umat Menumbuhkan kembali rasa persatuan Bukan saatnya saling melukai Apalagi membuka luka-luka lama Tiba waktunya kini saling peduli Sabilulungan, saling menjaga Apakah tidak memerhatikan Betapa virus ini telah mengajarkan kita Akan pentingnya rasa kebersamaan, kesehatan Bahwa kita tidak ada apa apa di hadapan-Nya Apakah tidak menyadari Corona telah banyak mengajarkan kita Yang telah lama lupa cara merawat diri Lupa cara berbagi kasih dan cinta Yang lupa bagaimana cara berterima kasih Lupa arti keluarga dan kebersamaan Lupa, bahwa manusia makhluk sosial Terima kasih virus corona  Telah mengajarkan kami banyak hal Bandung 09 Mei 2020 Catatan: sabilulungan (sunda) artinya: bersama-sama atau bergotong royong

PERJALANAN SEPI

dian rusdi Tahun-tahun berlalu Kaki waktu terus berjalan Penyaksi panas dan redup matahari Musim-musim adalah penantian  Resah gelisah sentali dalam sarang Cuaca telah menulis kisah  Puisi-puisi bagai pelarian Taman taman menjadi hutan Air mata adalah sungai-sungai sepi Harapan rindang dan gugur Diempas angin kebisuan Bandung, 11 Mei 2020

JEJAK

Begitu banyak waktu terbuang Tersia sudah dalam kelalaian Membayang di setiap degup kesepian Dan aku, menyaksikan daun-daun Gugur Begitu banyak putik-putik yang layu Pada ranggasnya pohon-pohon rindang Hanyalah kulit pembungkus tulang Pelan mengering tanpa makna Jejak-jejak lurus pun kulihat samar Pada memori yang hampir pudar Terlukis bagai; sebuah kematian Bandung 1901.16

LANGKAH PION!

dunia adalah arena kehidupan memaksa kita untuk terus bertarung selalu menawarkan kemenangan patutkah terkenang atau suatu ketidakpantasan jalan hidup seperti matahari redup terkadang terang langkahkan segenap ingin kalah mungkin awal luka itu tiada kekal baju bajamu tak bisa terus menahan terkadang kita harus menjadi diri sendiri sekecil apa kita di sana sebesar apa lajukan cita kalah menang gambar hakiki pantanglah untuk mundur Dian Rusdi, 2016

JENDELA KAYU

Pagi yang dingin Salju turun, matahari tertidur Daun-daun terpukul Aku di sini Menatapnya  Di antara salju yang turun Dari balik jendela kayu Pagi yang dingin Salju turun, seorang gadis bermenung Rindu hati pada alak paul Di mana Mentari Tinggal dan berlabuh Aku di sini Menatapnya  Di antara salju yang turun Dari balik jendela kayu Hujan pun menderas tak terbendung Dari berbaris awan di matanya Daun dan kuncup mulai membeku Rindunya semakin tak terkurung Aku di sini Menatapnya  Di antara salju yang turun Dari balik jendela kayu Dian Rusdi, 26.0916

CIUMAN KESTURI

Telah dilahirkan ---- manusia ke dunia Sebagian untuk kehidupan Sisanya untuk kematian Jalan hidup tak selamanya sama Semua t elah disusun dengan seksama Banyak merawat hidup Menanti keajaiban dengan doa-d oa  Tetap melangkahlah meski pincang Taman-taman indah menunggu membalas budi dengan anggur terbaik dan ciuman kesturi  Dian Rusdi,   28,0916

BENTANG

Bé ntang Di luhur nyorangan Kucap-kiceup seukeut neuteup Ninun asih, na lalambar jempling Ngarénda kamelang, ku karémpan Murag keclak na kiceupna, Lir gerentes mangsa simpé Angin nu mawa béja Jiga gondéwa nyiriwik meulah dada Meulah duriat nu karasa Béntang Di luhur nyorangan Teuteupna mimiti rempan Tuluy nyumput na papanto langit nginghak na purupuy hujan Béntang ... Mumunggang ka simpé, Des 2015 Terjemah* * BINTANG; Bintang Di atas menyendiri Kerlap-kerlip menatap tajam Sulam asih, di lembaran sepi Renda resah, dengan gundah Luruh tetes di kedipnya, Bagai bisik saat sunyi Angin nan membawa kabar Bagai lesat panah menembus dada Membelah rasa cinta terasa Bintang Di atas menyendiri Tatapannya mulai sayu Lalu sembunyi di pintu langit Tersedu pilu di guguran hujan. Bintang Mumunggang ka simpé, Des 2015 Dian Rusdi

MALATI BODAS

Sagagang malati bodas Nyacas ko tojo cahya bulan Nu n unggelis, lir malati ngan sahiji Jempling mawa panglamunan Ngayap-ngayap saban gambaran Warnana geus teu mangrupa surem, kabinasa mangsa Aya sora anjeun Ngahiji jeung gumuruh jempling Ngaguar-guar carita ilang Katiruk waktu teu kahontal Anjeun, muntang pageuh ingetan Lir malati; nunggelis gugupay Mumunggang ka simpé Bandung 17.06 terjemahan; MELATI PUTIH Setangkai melati putih Terang tersinar cahaya bulan Menyendiri, bagai melati yang satu Sepi membawa angan Meraba-raba setiap gambaran Warnanya sudah tak berupa Suram, terbunuh masa Ada suaramu Menyatu dalam gemuruh sepi Bercerita kembali cerita hilang Terpanah waktu tak sampai Kau, memegang kuat ingatan Bagai melati, sendiri melambai Mumunggang ka simpé Bandung 17.06

MEMOAR

Sendu malam mendayung kenangan Pias memucat di telaga sunyi Ada gerimis jatuh dari pandangan Menutup sebagian cahaya lalu Masihkah ada---di sana aku? Hari-hari masih seperti dulu Tak ada yang berubah dalam hatiku Waktu terasa begitu cepat Meski Sadarku terkadang sirna dalam pekat Ah kau:  Selalu hadir menyerupa memoar Bandung 27.04.16

PASRAH

Seandainya; Ada satu jalan mempertemukan kita Betapa semua tak mudah, menjadi sebuah realita Begitu licin penuh batu Sedang perahu kian menepi dermaga senja Tak ada yang lebih memilukan Selain sendiri dalam penantian Suara-suara hanya selintas bagai angin Setelahnya hilang lalu entah Banyak yang terlintas dalam otak Meski mata selalu mencoba terjaga Melukis wajahmu pada bisu bintang-bintang Perjalanan ini sungguh nestapa Seandainya; Ada satu jalan mempertemukan kita Betapa semua tak mudah, untuk sebentuk satu Terjal dan berliku Bagai lapis labirin begitu membingungkan Sepi mendayu-dayu Bagai aku di hatimu Bandung 05.0516 

MASIH

Masih kusimpan senyummu di riang pagi Sehangat mentari menyapa hati Masihkah engkau menyimpan rindu Waktu tanpamu berasa rancu Kembali kutelusur musim Setiap detik bagai tikungan Kadang langkah harus bermukim Harapan mungkinkah sebatas angan Masih kusimpan senyummu dalam penat Akrab menemani niat hakikat Mematri waktu-waktu yang retak Setiap saat rindu hati berontak Lalu pada apa harus aku buktikan Sedang langkahmu, terlampau jauh meninggalkan Bandung 08.0516